
“Remaja perlu dibekali pemahaman dan keberanian untuk mengenali kondisi psikologis diri sendiri dan orang di sekitarnya. Pencegahan bunuh diri harus dimulai dari kesadaran kolektif dan lingkungan yang suportif,” kata Irma Dasi, S.Psi.,M.A., dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Universitas Khairun.
TernateNews, Ternate: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Khairun (Unkhair) menggelar kegiatan Psikoedukasi Literasi Kesehatan Mental di MAN 1 Ternate pada Jumat 25 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan upaya promotif dan preventif terhadap meningkatnya kasus gangguan mental dan perilaku bunuh diri di kalangan remaja Kota Ternate.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada siswa tentang pentingnya deteksi dini gangguan mental serta mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung kesehatan jiwa di sekolah.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber Irma Dasi, S.Psi.,M.A., dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Universitas Khairun. Dalam sesi pemaparannya, Irma menyampaikan berbagai informasi penting mengenai kesehatan mental remaja, mulai dari cara mengenali gejala awal stres, kecemasan, dan depresi, hingga bagaimana langkah yang bisa dilakukan siswa untuk mencari bantuan ketika mengalami tekanan psikologis.
Ia juga menekankan pentingnya saling peduli di antara teman sebaya sebagai bentuk dukungan sosial yang efektif mencegah tindakan bunuh diri.

Kegiatan psikoedukasi ini dilaksanakan bersamaan dengan program Kubermas (Kuliah Berkarya Bermasyarakat) oleh mahasiswa FKIK Universitas Khairun, yang turut berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan dan berinteraksi langsung dengan para siswa. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata sinergi antara dunia akademik dan pendidikan menengah dalam menanggapi isu-isu serius terkait kesehatan mental remaja.
Menurut Irma Dasi, pendekatan edukatif seperti ini sangat penting karena banyak remaja yang belum memiliki pemahaman cukup tentang kesehatan mental, bahkan masih menganggap isu tersebut sebagai hal yang tabu. “Remaja perlu dibekali pemahaman dan keberanian untuk mengenali kondisi psikologis diri sendiri dan orang di sekitarnya. Pencegahan bunuh diri harus dimulai dari kesadaran kolektif dan lingkungan yang suportif,” jelasnya.
Kegiatan ini mendapatkan sambutan hangat dan dukungan penuh dari pihak sekolah. Kepala MAN 1 Ternate menyampaikan apresiasinya kepada tim penyelenggara atas pelaksanaan psikoedukasi ini.
Ia menyatakan bahwa permasalahan kesehatan mental saat ini menjadi tantangan besar di dunia pendidikan, sehingga pihak sekolah merasa sangat terbantu dengan adanya kegiatan yang dapat meningkatkan literasi dan kesadaran siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan jiwa.
Para siswa terlihat antusias mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pandangan mereka terkait tekanan yang dialami di usia remaja.
Beberapa siswa bahkan mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama mereka mendapatkan informasi secara terbuka dan ilmiah mengenai isu kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri.
Melalui kegiatan ini, diharapkan MAN 1 Ternate dapat menjadi sekolah yang peduli terhadap kesehatan mental siswa dan menjadi pelopor dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara psikologis.
Psikoedukasi ini juga diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi di sekolah-sekolah lain di Kota Ternate, sebagai bagian dari gerakan bersama untuk menekan angka gangguan mental dan perilaku bunuh diri di kalangan remaja.






