Balai Bahasa Maluku Utara Gelar Bimtek Penulisan Cerita Anak Dwibahasa, Dorong Pelestarian Bahasa Daerah

Balai Bahasa Maluku Utara Gelar Bimtek Penulisan Cerita Anak Dwibahasa, Dorong Pelestarian Bahasa Daerah
Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Cerita Anak Dwibahasa (Bahasa Daerah Maluku Utara–Bahasa Indonesia) selama tiga hari, mulai Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Kie Raha 5, Hotel Muara, Kota Ternate.
Oplus_131074

TernateNews.com, Ternate  – Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Cerita Anak Dwibahasa (Bahasa Daerah Maluku Utara–Bahasa Indonesia) selama tiga hari, mulai Rabu, 11 Februari 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Kie Raha 5, Hotel Muara, Kota Ternate.

Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara, Nurul Istiqamallah, mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan peserta dalam menulis cerita anak yang berkualitas, sekaligus melestarikan bahasa dan budaya lokal melalui bahan bacaan literasi berbasis kearifan lokal.

“Melalui bimtek ini, kami berharap peserta mampu menghasilkan cerita anak yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya daerah. Nantinya, karya-karya tersebut akan diterbitkan dalam bentuk buku,” ujar Nurul.

Pada tahun 2026, sebanyak 29 peserta mengikuti kegiatan ini. Mereka berasal dari berbagai latar bahasa daerah di Maluku Utara, di antaranya bahasa Ternate, bahasa Ternate dialek Tidore, bahasa Bacan, bahasa Patani, bahasa Galela, bahasa Sula, dan bahasa Makian Dalam.

Nurul berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik sehingga mampu menghasilkan karya yang layak terbit dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bacaan anak.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Muslim Gani, menilai bimtek penulisan cerita anak dwibahasa ini sangat penting untuk memperkaya referensi bacaan anak di sekolah.

“Kegiatan ini menambah referensi bahan bacaan anak-anak di sekolah. Selain itu, guru-guru juga mendapatkan wawasan tentang penulisan buku cerita anak berdasarkan jenjang usia tertentu,” kata Muslim.

Ia menambahkan, melalui buku cerita anak berbasis bahasa daerah, nilai-nilai kearifan lokal dapat ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Dengan demikian, anak-anak akan lebih mengenal jati diri kedaerahan mereka.

Muslim berharap buku cerita anak dwibahasa yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara optimal di sekolah, khususnya dalam pengembangan dan pembelajaran bahasa daerah, terutama bahasa Ternate.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa bahasa Ternate telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda. Karena itu, menurutnya, pemerintah daerah perlu mengambil langkah konkret agar bahasa daerah diajarkan secara berkelanjutan di seluruh jenjang pendidikan, tidak hanya di tingkat sekolah dasar.

“Implementasi dari penetapan tersebut harus diwujudkan melalui kebijakan dan praktik pembelajaran di sekolah. Bahasa daerah perlu diajarkan di semua jenjang pendidikan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *