Sekolah Rakyat di Ternate: Rumah Kedua Bagi Anak-Anak dengan Harapan Baru

Sore itu, setelah belajar dan berolahraga, Haura bersama teman-temannya berjalan santai di sekitar lingkungan asrama. Wajah mereka tampak lelah, tapi bahagia. Ketika ditanya tentang cita-citanya, Haura menjawab mantap. “Saya ingin jadi Polwan, supaya bisa menangkap orang jahat dan membantu masyarakat.”
TernateNews.com — Tawa riang terdengar dari halaman asrama Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate. Beberapa anak sedang berlarian kecil, sebagian lagi sibuk menyapu halaman sambil bercanda.
Di antara mereka, seorang siswi bernama Haura Ramadhani Yasim tampak tersenyum hangat. Dengan seragam rapi dan mata berbinar, Haura bercerita tentang hari-harinya di sekolah yang ia sebut sebagai rumah kedua.
“Pelajaran di sini menyenangkan, apalagi fasilitasnya lengkap. Kami dapat seragam, alat tulis, tas, bahkan makan tiga kali sehari,” ujar Haura saat diwawancarai belum lama ini. “Yang paling seru, kami tinggal di asrama, jadi setiap hari bisa bertemu teman-teman.”
Haura adalah satu dari puluhan siswa yang kini menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 26 Ternate, sebuah program pendidikan berbasis asrama yang digagas pemerintah melalui Dinas Sosial. Program ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di Maluku Utara.
Bagi banyak orang tua, sekolah rakyat bukan hanya tempat anak mereka menuntut ilmu, tapi juga menjadi penopang ekonomi dan harapan masa depan.
Yasim Fataha, ayah Haura, mengaku sangat terbantu dengan keberadaan sekolah ini. “Dulu Haura sekolah di MIN Moya. Setelah lulus, kami mendapat sosialisasi dari Dinas Sosial dan memutuskan mendaftarkannya ke sekolah rakyat,” tuturnya.
Menurut Yasim, keputusan itu membawa perubahan besar bagi keluarganya. “Secara ekonomi, sangat membantu. Semua kebutuhan sekolah ditanggung, mulai dari perlengkapan belajar sampai makan dan kebutuhan asrama. Kami jadi bisa fokus mencari nafkah tanpa khawatir anak kekurangan,” ujar Yasim.
Namun lebih dari sekadar bantuan ekonomi, Yasim juga melihat nilai lain yang tak kalah penting. “Di sini anak-anak dibimbing 24 jam. Kami merasa lebih tenang karena mereka berada di lingkungan yang terpantau, belajar disiplin, beribadah, dan hidup mandiri,” katanya, menambahkan.
Tak jauh dari asrama, Fatin, salah satu guru di SRMP 26 Ternate, sedang mengawasi anak-anak bermain di halaman sekolah. Ia menjelaskan bahwa sistem pembelajaran di sekolah rakyat memang berbeda dengan sekolah umum.
“Di sini kami tidak hanya fokus pada pelajaran akademik, tapi juga pada pembentukan karakter,” jelasnya. “Setiap pagi anak-anak belajar di kelas seperti biasa, lalu sore hari mereka mengikuti kegiatan pembinaan di asrama, mulai dari ibadah, olahraga, hingga kegiatan sosial.”
Menurut Fatin, pihak sekolah terus berupaya memperbaiki fasilitas. “Masih banyak yang kami lengkapi, baik untuk kebutuhan belajar, olahraga, maupun asrama. Tapi kami pastikan anak-anak tetap mendapatkan fasilitas yang layak dan nyaman,” katanya.
Sore itu, setelah belajar dan berolahraga, Haura bersama teman-temannya berjalan santai di sekitar lingkungan asrama. Wajah mereka tampak lelah, tapi bahagia. Ketika ditanya tentang cita-citanya, Haura menjawab mantap. “Saya ingin jadi Polwan, supaya bisa menangkap orang jahat dan membantu masyarakat.” ucapnya, sedikit tegas.
Jawaban polos itu mencerminkan semangat besar yang tumbuh di balik kesederhanaan. Sekolah rakyat bukan hanya tempat belajar, melainkan ruang untuk menumbuhkan mimpi — mimpi anak-anak Ternate yang ingin mengubah masa depan mereka dan masyarakatnya.
Program Sekolah Rakyat di Ternate menjadi contoh nyata bahwa pendidikan yang berpihak pada rakyat kecil masih sangat dibutuhkan. Di tengah keterbatasan, sekolah ini hadir membawa harapan baru, memastikan tak ada anak yang tertinggal karena alasan ekonomi.
Bagi Haura dan teman-temannya, setiap hari di asrama bukan sekadar rutinitas, tapi langkah kecil menuju masa depan yang lebih cerah. “Sekolah ini seperti rumah,” kata Haura pelan sebelum kembali ke asrama. “Rumah tempat kami belajar, bermain, dan bermimpi.”



