TernateNews.com, Ternate — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Provinsi Maluku Utara pada triwulan I-2026 tumbuh 19,64 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Pertumbuhan tersebut terjadi di seluruh lapangan usaha dengan kontribusi terbesar dari sektor industri pengolahan yang melonjak 37,09 persen.
Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 14,70 persen, serta perdagangan besar dan eceran sebesar 14,60 persen. Kinerja ini menunjukkan aktivitas ekonomi berbasis konsumsi dan industri tetap menjadi penopang utama pertumbuhan daerah.
Namun secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Maluku Utara mengalami kontraksi sebesar 5,14 persen dibanding triwulan IV-2025. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya sejumlah sektor utama, terutama konstruksi yang terkontraksi 18,54 persen dan pertambangan serta penggalian sebesar 10,16 persen.
Industri pengolahan juga tercatat mengalami kontraksi 5,73 persen, disusul sektor jasa keuangan dan asuransi yang turun 5,39 persen. Meski demikian, beberapa sektor masih mencatat pertumbuhan triwulanan. Seperti akomodasi dan makan minum sebesar 6,99 persen. Selanjutnya adalah sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 4,39 persen.
Kepala BPS Maluku Utara, Simon Sapary, menjelaskan dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi secara tahunan terjadi pada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 17,57 persen. “Disusul ekspor barang dan jasa yang tumbuh 15,23 persen, mencerminkan kuatnya aktivitas investasi dan perdagangan luar negeri,” kata Simon, Selasa, 5 Mei 2026.
Komponen konsumsi pemerintah, konsumsi rumah tangga, serta pengeluaran lembaga non-profit yang melayani rumah tangga masing-masing tumbuh 12,94 persen, 4,94 persen, dan 1,78 persen. Sementara itu, impor barang dan jasa yang menjadi faktor pengurang dalam PDRB juga meningkat 12,57 persen.
Secara triwulanan, sebagian besar komponen pengeluaran mengalami kontraksi, kecuali pengeluaran lembaga non-profit yang masih tumbuh 1,90 persen. “Kontraksi terdalam terjadi pada PMTB sebesar 23,09 persen dan konsumsi pemerintah sebesar 22,05 persen,” kata Simon.
Selanjutnya, konsumsi rumah tangga terkontraksi 2,58 persen dan ekspor barang serta jasa turun tipis 0,19 persen. Di sisi lain, impor barang dan jasa juga mengalami kontraksi sebesar 5,02 persen, yang turut memengaruhi dinamika pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.










