TernateNews.com – Tim dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Khairun (Unkhair) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) skema Kemitraan berupa edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bertajuk “Penguatan PHBS melalui Edukasi Interaktif sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Infeksi” di PAUD (TK) Alkhairaat 02 Kota Ternate pada Rabu, 22 Juli 2026. Kegiatan ini menyasar anak-anak usia dini beserta para guru, dengan tujuan menanamkan kebiasaan sehat sejak dini, khususnya mencuci tangan pakai sabun.
Tim pelaksana diketuai oleh dr. Dwi Hastuti, M.Biomed, bersama dua anggota, yakni dr. Fathul Rizky S. Imam, M.Kes dan dr. Septa Ayu Bungasari, M.Kes. Kegiatan ini sekaligus mendukung pelaksanaan MBKM dan Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi melalui pengabdian masyarakat berbasis edukasi kesehatan.
Anak usia dini merupakan kelompok yang rentan terhadap penyakit infeksi. Sistem imun yang belum matang, kebiasaan higiene yang belum terbentuk, serta interaksi fisik yang erat dengan teman sebaya membuat lingkungan sekolah menjadi tempat penularan penyakit yang cukup tinggi, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, influenza, penyakit kulit, dan cacingan.
“Tangan adalah media utama perpindahan kuman. Anak-anak bermain, memegang mainan dan benda di sekitarnya, lalu menyentuh mulut, hidung, atau makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Karena itu, kebiasaan mencuci tangan pakai sabun perlu ditanamkan sejak usia dini,” jelas dr. Dwi Hastuti, M.Biomed selaku ketua tim.
Menurut Kementerian Kesehatan, PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sehingga seseorang mampu menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif mewujudkan kesehatan masyarakat. Di lingkungan sekolah, PHBS antara lain meliputi mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, mengonsumsi jajanan atau bekal yang sehat, serta membuang sampah pada tempatnya.
Penerapan PHBS sejak usia dini dinilai sangat penting karena kebiasaan yang terbentuk pada masa kanak-kanak cenderung menetap hingga dewasa. PAUD Alkhairaat 02 sendiri telah berkomitmen menanamkan kebiasaan baik kepada anak didiknya. Melalui diskusi bersama pihak sekolah, tim PKM dan para guru sepakat untuk memperkuat upaya tersebut melalui edukasi kesehatan yang lebih terstruktur, media pembelajaran yang menarik, serta dukungan fasilitas cuci tangan, sehingga pembiasaan PHBS dapat berjalan semakin optimal dan berkelanjutan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim merancang kegiatan dengan pendekatan fun learning yang sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini. Edukasi tidak hanya berupa penyampaian materi, tetapi dikemas melalui media visual, permainan, simulasi, lagu, dan praktik langsung.
Dalam sesi edukasi, anak-anak diperkenalkan pada berbagai perilaku hidup bersih dan sehat, meliputi cara mencuci tangan pakai sabun sesuai anjuran WHO, pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, menjaga kebersihan kuku, serta etika batuk dan bersin. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana dan bantuan poster bergambar. Suasana kelas tampak hidup ketika anak-anak antusias mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan dari pemateri.

Pemateri menyampaikan materi PHBS, sementara seorang anak maju ke depan kelas untuk menjawab pertanyaan.
Setelah sesi edukasi, anak-anak diajak mempraktikkan langsung cara mencuci tangan. Pemateri memperagakan langkah-langkahnya, lalu anak-anak mengikuti gerakan dan mencuci tangan secara bergantian.
“Anak-anak belajar paling baik lewat melihat, mendengar, dan melakukan. Dengan praktik langsung, mereka tidak hanya tahu langkah cuci tangan, tetapi mulai membiasakannya,” ujar dr. Dwi Hastuti.
Adapun cara mencuci tangan yang benar sesuai anjuran WHO terdiri atas enam langkah, dilakukan dengan air mengalir dan sabun selama sekitar 40–60 detik:
1. Basahi tangan, tuang sabun, lalu gosok kedua telapak tangan.
2. Gosok punggung tangan dan sela-sela jari secara bergantian.
3. Gosok kedua telapak tangan dengan jari saling mengait.
4. Gosok punggung jari dengan jari saling mengunci.
5. Gosok ibu jari secara memutar dalam genggaman tangan lainnya.
6. Gosok ujung jari pada telapak tangan secara memutar, lalu bilas dan keringkan.

Seorang anak menirukan gerakan cuci tangan sesuai anjuran WHO yang diperagakan pemateri.
Selain itu, tim juga mengajarkan etika batuk dan bersin, yaitu menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau lengan atas bagian dalam, bukan dengan telapak tangan, lalu membuang tisu ke tempat sampah dan mencuci tangan.
Materi kesehatan gigi dan mulut juga mendapat perhatian khusus. Karies atau gigi berlubang masih menjadi masalah kesehatan yang sangat umum pada anak usia dini di Indonesia. Anak-anak diajak membiasakan menyikat gigi dua kali sehari, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur, menggunakan pasta gigi berfluoride, serta mengurangi makanan dan minuman manis atau lengket. Gigi susu yang sehat penting bagi anak untuk mengunyah, berbicara, dan menjadi penuntun tumbuhnya gigi tetap.
Sementara itu, kebersihan kuku sering luput dari perhatian. Kuku yang panjang dan kotor dapat menjadi tempat menempelnya kuman dan telur cacing, yang kemudian masuk ke mulut saat anak makan atau menggigit jari. Karena itu, anak diajarkan untuk memotong kuku secara rutin, setidaknya sekali seminggu, dengan bantuan orang tua.
Guru turut dilibatkan sebagai mitra penting dalam kegiatan ini. Tim berbagi media dan modul edukasi kepada guru, agar pembiasaan PHBS yang telah berjalan di sekolah dapat terus diperkuat dalam aktivitas harian anak. Dengan begitu, manfaat kegiatan tidak berhenti setelah penyuluhan selesai.
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, tim juga menyediakan fasilitas wastafel cuci tangan bagi sekolah. Wastafel ini disediakan agar praktik mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun dapat menjadi rutinitas sehari-hari anak, bukan sekadar kegiatan sesaat. Poster PHBS, stiker edukasi, serta leaflet untuk orang tua juga diberikan sebagai pengingat bagi anak, guru, dan keluarga.

Penyerahan wastafel portabel dari Tim PKM kepada pihak sekolah untuk mendukung kebiasaan cuci tangan pakai sabun di sekolah.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan evaluasi untuk melihat proses pelaksanaan serta perubahan pengetahuan dan praktik PHBS pada anak, melalui pretest–posttest dan observasi kebiasaan siswa. Selain itu, tim juga memberikan doorprize kepada peserta yang aktif menjawab dan bertanya.
Kepala PAUD Alkhairaat 02 Kota Ternate, Ibu Majida Mahmud, S.Pd., menyambut baik kegiatan ini dan menilainya sangat bermanfaat. “Kami sangat berterima kasih kepada tim dosen FKIK Unkhair. Kegiatan ini sejalan dengan upaya yang selama ini kami lakukan dalam membiasakan anak-anak hidup bersih dan sehat. Anak-anak terlihat senang dan antusias karena materinya disampaikan sambil bermain dan langsung dipraktikkan. Wastafel, poster, dan media edukasi yang diberikan tentu akan semakin mendukung kami dalam membimbing anak-anak mencuci tangan, menjaga kebersihan gigi dan kuku, serta menerapkan etika batuk dan bersin di sekolah,” ujarnya.

Tim mendampingi anak-anak mengisi lembar post-test untuk melihat pemahaman mereka setelah edukasi.
Tim PKM juga mengajak orang tua untuk melanjutkan pembiasaan di rumah. Ada beberapa waktu penting bagi anak untuk mencuci tangan pakai sabun, yaitu sebelum makan, setelah buang air besar atau kecil, setelah bermain di luar, setelah batuk atau bersin, dan setelah memegang hewan atau sampah. Orang tua dapat memberi contoh langsung, karena anak usia dini belajar dengan meniru orang di sekitarnya.
“Satu kegiatan mungkin hanya berlangsung singkat, tetapi kebiasaan baik dapat terus tumbuh ketika pengetahuan, praktik, dan lingkungan berjalan bersama. Kami berharap anak-anak tidak hanya tahu pentingnya hidup bersih dan sehat, tetapi juga membiasakannya setiap hari,” tutup dr. Dwi Hastuti.
Melalui kegiatan ini, FKIK Unkhair berharap PAUD Alkhairaat 02 dapat menjadi contoh sekolah yang mendukung perilaku hidup bersih dan sehat, serta model edukasi ini dapat direplikasi di sekolah lain di Kota Ternate. (Red)















